Earthquake 1665886 1280

Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir bagian selatan Jawa dihimbau untuk selalu mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana alam gempa bumi dan tsunami mengingat wilayah tersebut merupakan salah satu zona gempa yang aktif.

Hal itu terlihat dari seringnya terjadi gempa swarm atau gempa skala kecil yang tidak diakhiri dengan gempa utama. Data tersebut diperoleh berdasarkan hasil evaluasi aktivitas kegempaan pada bulan Agustus 2019.

Demikian seperti yang diungkapkan oleh Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono dalam konferensi pers yang digelar pada Jumat (30/8/2019) lalu di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta.

Namun demikian Daryono menegaskan meski berada di zona aktif gempa, bukan berarti akan terjadi gempa yang sangat besar di zona tersebut.

Menurut Daryono, gempa yang mengguncang Banten bagian Selatan pada awal Agustus 2019 lalu merupakan salah satu alarm bahwa di bagian Selatan Jawa terdapat zona gempa yang aktif.

Karena itulah menurut Daryono, masyarakat yang tinggal di bagian Selatan Jawa harus siap menghadapi gempa dan tsunami serta jangan mengabaikan peringatan yang sudah diberikan.

Salah satu kesiapan dalam menghadapi bencana alam tersebut adalah dengan membangun rumah yang tahan gempa dan kuat agar terlindung ketika terjadi gempa. Selain itu harus membuat tata ruang yang aman dengan tidak membangun usaha atau rumah di pantai yang memiliki titik-titik gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami.

Diungkapkan Daryono saat ini para pakar harus terus mempelajari kebencanaan yang ada di Indonesia. Bangsa Indonesia harus waspada karena tinggal di wilayah yang rawan bencana, meski demikian tidak perlu khawatir secara berlebihan.

Lebih lanjut Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG tersebut menyebutkan sejumlah daerah yang termasuk ke dalam zona gempa aktif pada September 2019. Daerah-daerah tersebut antara lain Mentawai-Nias, Selatan Sunda-Selatan Pulau Jawa, Selatan Bali-Sumbawa-Sumba, Sulawesi Tengah-Gorontalo, Ambon-Laut Banda, Laut Maluku Utara, serta Mamberamo dan sekitarnya.

Meski demikian diakui Daryono, hasil statistik BMKG sejak Januari hingga Agustus tahun ini tren di zona tersebut mengalami penurunan. Namun ia mengingatkan menurunnya aktivitas kegempaan di zona-zona tersebut tidak berarti tidak ada gempa.

Berdasarkan hasil monitoring BMKG pada Agustus 2019, telah terjadi gempa tektonik sebanyak 673 kali. Jumlah tersebut mengalami penurunan dibanding Juli 2019 yang gempanya terjadi 841 kali.

Comments powered by CComment