19 09 03 20 05 40 241 Deco

Sebanyak 673 gempa bumi mengguncang wilayah Indonesia selama bulan Agustus 2019. Dari jumlah tersebut, 3 gempa diantaranya merusak.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono melalui Instagramnya, total kejadian gempa bumi tektonik selama bulan Agustus 2019 terjadi sebanyak 673 kali.

Gempa bumi dengan magnitudo signifikan di atas 5,0 (M > 5,0) terjadi sebanyak 22 kali. Sedangkam gempa bumi yang guncangannya dirasakan terjadi sebanyak 56 kali.

Sedangkan 3 gempa bumi yang merusak diantaranya gempa bumi di Selatan Banten pada 2 Agustus 2019 dengan magnitudo M=6,9 yang merusak 7 bangunan rumah yang tersebar di Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sukabumi.

Gempa kedua yang merusak adalah gempa bumi yang terjadi di Banyuwangi pada 12 Agustus 2019 dengan megnitudo M=5,0. Gempa tersebut menyebabkan beberapa rumah rusak ringan di Pantai Pancar dan Rajegwesi, Banyuwangi.

Gempa terakhir yang merusak di Bulan Agustus adalah gempa bumi di Kaki Gunung Salak pada 23 Agustus 2019 yang bermagnitudo M=4,0. Gempa ini menyebabkan beberapa bangunan rumah warga rusak ringan di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Selain itu selama Bulan Agustus 2019 juga terjadi gempa swarm. Swarm adalah serangkaian aktivitas gempa bermagnitudo relatif kecil dengan frekuensi kejadiannya sangat tinggi dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama di wilayah sangat lokal.

Fenomena swarm di Indonesia sudah terjadi beberapa kali, seperti aktivitas swarm di Klangon Madiun (Juni 2015), Jailolo Halmahera barat (Desember 2015), dan Mamasa Sulawesi Barat (November 2018). Gempa swarm Madiun terjadi pada 3 Agustus 2019 dimana terjadi gempa lebih dari 19 kali dalam sehari.

Selanjutnya adalah swarm yang terjadi di sebelah barat daya Kaki Gunung Salak pada10 hingga 28 Agustus 2019. Selama sekitar 18 hari terjadi gempa lebih dari 84 kali hingga masyarakat resah dan sebagian mengungsi di perkebunan teh.

Pada beberapa kasus, swarm terjadi di zona gunungapi. Swarm dapat terjadi di kawasan yang mengalami medan tegangan berkaitan dengan desakan aktivitas magmatik.

Selain berkaitan dengan kawasan gunung api, beberapa laporan menunjukkan bahwa aktivitas swarm juga dapat terjadi di kawasan non volkanik.

Swarm memang dapat terjadi di kawasan dengan karakteristik batuan yang rapuh sehingga mudah terjadi retakan (fractures).

https://www.instagram.com/p/B18kNM9H6Sn/?igshid=5khiib3y7mhm

Instagram daryonobmkg

Comments powered by CComment