19 09 11 09 03 45 765 Deco

Mantan Presiden Indonesia BJ Habibie meninggal di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta pada Rabu (11/9) sekitar pukul 18.05 Wib. Habibie meninggal di usia 83 tahun setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit sejak 2 September lalu akibat gangguan jantung. Rencananya almarhum akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan usai Shalat Dzuhur.

Pemilik nama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie tersebut merupakan Presiden Indonesia yang ke-3. Ia menjadi presiden pada 21 Mei 1998 menggantikan Presiden Soeharto yang mengundurkan diri usai menjabat sebagai presiden selama 32 tahun.

Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Ia sudah menunjukkan kecerdasannya sejak dini. Habibie memiliki ketertarikan khusus dengan fisika. Ia pernah menempuh pendidikan selama 6 bulan di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1954.

Setahun kemudian, Ia melanjutkan studi teknik penerbangan selama 10 tahun di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman. Ia pun sukses menyabet 2 gelar sekaligus yaitu Diplom Ingenieur pada tahun 1960 dan Doktor Ingenieur pada tahun 1965 dengan predikat summa cum laude.

Setelah lulus, B.J. Habibie bekerja di perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman, yaitu Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) pada 1965-1969 sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang. Ia kemudian menjabat sebagai Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer dari tahun 1969 hingga 1973.

Karirnya terus melejit hingga berhasil menjabat sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978 serta menjadi Penasihat Senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur MBB (1978). Ia pun menjadi satu-satunya orang Asia yang menduduki jabatan nomor dua di perusahaan pesawat terbang Jerman tersebut.

Selama bekerja di Jerman, Habibie menyumbang berbagai hasil penelitian dan sederet teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi Thermodinamika, Konstruksi, dan Aerodinamika. Beberapa rumusan teorinya dikenal dalam dunia pesawat terbang seperti “Habibie Factor“, “Habibie Theorem” dan “Habibie Method“.

Presiden Soeharto kemudian meminta Habibie pulang ke Indonesia dan mengangkatnya menjadi penasehat pemerintah (langsung dibawah presiden) di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi hingga tahun 1978. Setelah itu, ia diangkat Soeharto menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi selama 2 dekade mulai dari 1978 hingga 1998.

Pada 14 Maret 1998 Habibie terpilih menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia dalam Kabinet Pembangunan VII. Pada 21 Mei 1998 Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden akibat tuntutan gelombang reformasi. Maka Habibie pun naik menggantikannya menjadi Presiden RI yang ke-3 pada usia 62 tahun.

Comments powered by CComment