19 09 23 19 34 13 429 Deco

Terkait dengan viralnya langit di Muaro Jambi yang berwarna merah dan tertutupnya sinar matahari akibat asap tebal, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa peristiwa tetsrvut dapat dijelaskan secara ilmiah.

Menurut BMKG, berdasarkan hasil analisis citra satelit Himawari-8 pada tanggal 21 September 2019 lalu di sekitar Muaro Jambi, tampak terdapat banyak titik panas dan sebaran asap yang sangat tebal.

Asap dari kebakaran hutan dan lahan ini berbeda dari daerah lain yang juga mengalami kebakaran, wilayah lain pada satelit tampak berwarna cokelat namun di Muaro Jambi menunjukkan warna putih yang mengindikasikan bahwa lapisan asap yang sangat tebal. Hal ini dimungkinkan karena kebakaran lahan / hutan yang terjadi di wilayah tersebut, terjadi terutama pada lahan-lahan gambut.

Tebalnya asap juga didukung oleh tingginya konsentrasi debu partikulat polutan berukuran <10 mikron (PM10). Pengukuran konsentrasi PM10 = 373,9 ug/m3 di Jambi menunjukkan kondisi tidak sehat.

Sedangkan di Pekanbaru menunjukan kualitas udara yang lebih parah lagi, yaitu konsentrasi debu polutan PM10 kategori berbahaya 406,4 ug/m3.

Mengapa Langit Memerah? Menurut BMKG, jika ditinjau dari teori fisika atmosfer pada panjang gelombang sinar tampak, langit berwarna merah ini disebabkan oleh adanya hamburan sinar matahari oleh partikel mengapung di udara yang berukuran kecil (aerosol), dikenal dengan istilah hamburan mie ( Mie Scattering ) . Mie scattering terjadi jika diameter aerosol dari polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak ( visible) matahari.

Panjang gelombang sinar merah berada pada ukuran 0,7 mikrometer. Dari data BMKG diketahui bahwa konsentrasi debu partikulat polutan berukuran <10 mikrometer sangat tinggi di sekitar Jambi, Palembang, dan Pekanbaru. Tetapi langit yang berubah merah terjadi di Muaro Jambi. Ini berarti debu polutan di daerah tersebut dominan berukuran sekitar 0,7 mikrometer atau lebih dengan konsentrasi sangat tinggi.

Selain konsentrasi tinggi, tentunya sebaran partikel polutan ini juga luas untuk dapat membuat langit berwarna merah. Mengapa dikatakan ukuran partikel bisa lebih dari 0.7 mikrometer? Ini dikarenakan mata manusia hanya dapat melihat pada spektum visibel (0.4-0.7 mikrometer).

Pada 2015, di Palangkaraya juga pernah diberitakan beberapa kali mengalami langit berwarna orange akibat karhutla, yg berarti ukuran debu partikel polutan (aerosol) saat itu dominan lebih kecil/ lebih halus (fine particle) daripada fenomena langit memerah di Muaro Jambi kali ini.

 

Instagram Source:
https://www.instagram.com/p/B2sx7uWhkCG/?utm_source=ig_embed&utm_campaign=loading

 

Comments powered by CComment