19 10 03 21 51 44 779 Deco

Lebih dari 1000 gempa susulan mengguncang wilayah Ambon, Kairatu dan Haruku, Provinsi Maluku.

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pasca Gempabumi Kairatu, Ambon, dan Haruku berkekuatan 6,5 (sebelumnya disebutkan Magnitudo 6,8) yang terjadi pada 26 September 2019 lalu, hingga Jumat pagi 4 Oktober 2019, telah terjadi 1006 gempa susulan. Dari jumlah tersebut sebanyak 110 gempa susulan guncangannya dirasakan oleh masyarakat.

Secara statistik, frekuensi kejadian gempa cenderung semakin mengecil. Gempa susulan tersebut akan terus terjadi hingga energinya habis. Hal itu dapat dilihat dari kekuatan gempa susulan yang semakin kecil dan jumlah kejadiannya yang terus berkurang setiap harinya.

IMG 20191003 220038

Data gempa susulan (Sumber: BMKG)

Sementara itu menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG/Vice president HAGI Divisi Mitigasi Bencana Kebumian, Dr. Daryono, gempa Kairatu yang berkekuatan 6,5 merupakan gempa tipe 1, yaitu tipe gempa utama yang didahului oleh serangkaian gempa pendahuluan (foreshocks), kemudian terjadi gempa utama (main shock), selanjutnya diikuti oleh serangkaian gempa susulan (aftershocks).

Dari hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa sebelum terjadi gempa bermagnitudo 6,5 di Kairatu Selatan, sudah terjadi rentetan aktivitas gempa berkekuatan kecil yang merupakan gempa pendahuluan. Aktivitas ini mirip seperti kalau kita mau mematahkan kayu, perlahan-lahan ada retakan-retakan kecil sebelum benar-benar terpatahkan.

Peta seismisitas Maluku menunjukkan bahwa di sekitar episenter gempa utama terdapat klaster pusat gempa dengan magnitudo antara 1,5 - 3,5 sebanyak 30 kali sejak 28 Agustus 2019. Ini bukti bahwa gempa Khairatu bermagnitudo 6,5 didahului oleh gempa pembuka.

Comments powered by CComment