Flooding Illustration New

Tingkat kesiapsiagaan masyarakat di Indonesia dalam menghadapi bencana besar dinilai masih rendah. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho.

Selain itu dalam rilis laporannya Sutopo mengungkapkan bahwa mitigasi baik struktural dan non struktural yang telah dilakukan hingga kini masih belum dijadikan prioritas dalam pembangunan di daerah.

Saat ini upaya penanganan bencana masih banyak menitikberatkan pada saat darurat bencana. Sedangkan upaya untuk pencegahan dan kesiapsiagaan masih dinilai kurang sehingga perlu ditingkatkan.

Sutopo menegaskan, kejadian bencana yang terus meningkat seharusnya menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar tidak terulang di masa mendatang. Jikapun terjadi lagi, dampak bencana hendaknya dapat diminimalkan.

Oleh karena itu ia menyarankan agar pengurangan risiko bencana dan mitigasi bencana harus terintegrasi dalam pembangunan. Pengurangan risiko dan mitigasi bencana selayaknya menjadi investasi dalam pembangunan.

Sementara itu hingga 1 Mei 2019 lalu jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di Provinsi Bengkulu mencapai 30 orang, sedangkan 6 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Korban meninggal dunia tertinggi teridentifikasi dari Kabupaten Bengkulu Tengah dengan jumlah 24 orang, Kota Bengkulu 3 orang dan Kepahiang 3 orang.

Tim SAR gabungan yang dikoordinir oleh Basarnas masih memfokuskan pencarian korban hilang di Desa Talang Boseng, Susup dan Kelindang.

Total kerugian sementara hingga awal Mei telah mencapai Rp 144 milyar. Namun jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah mengingat luas banjir dan skala dampak yang ditimbulkan masih terus didata oleh pihak BPBD Provinsi Bengkulu. (Eti)

Comments powered by CComment