19 05 13 17 38 31 102 Deco

Menjalani ibadah puasa di Bulan Ramadhan setiap tahunnya tentu sudah menjadi hal yang biasa bagi umat muslim di Indonesia. Tapi akan menjadi hal yang luar biasa saat mereka menjalani ibadah puasa untuk pertama kalinya jauh dari tanah air tercinta.

Seperti yang diakui oleh Natasya Caesarina Prasodjo. Dara manis asal Cirebon ini terpaksa menjalani ibadah puasa untuk pertama kalinya di luar Indonesia karena tuntutan pekerjaan.

Diakui Tasya, demikian ia biasa dipanggil, pertama kali menjalani ibadah puasa di luar negeri dirasakan sangat berbeda jika dibandingkan dengan di Indonesia, apalagi negara tempatnya berdomisili saat ini, yaitu Meksiko, sangat sedikit jumlah muslimnya. Hal itu tentu membuat suasana Ramadhan di Mexico City menjadi terasa jauh berbeda dengan Indonesia.

Perbedaan yang paling terasa dirasakan Tasya adalah sulitnya mendengar suara adzan Maghrib yang menandakan telah tibanya waktu berbuka puasa, dan suara alarm atau peringatan imsyak dari masjid setempat pertanda waktu Subuh kian mendekat.

Tasya mengakui kalau dirinya sangat merindukan tradisi-tradisi yang biasa dilakukan saat atau menjelang tibanya Bulan Ramadhan di Indonesia, seperti munggahan, tarawih keliling, serta kebiasaan melihat anak-anak atau remaja masjid yang keliling kampung membangunkan warga untuk sahur.

"Sebenernya rindu suasana Ramadhan di Indonesia sih Mba hehe... Karena kebiasaan kalau di Indonesia kan sebelum berpuasa kita ada tradisi munggahan, lalu teraweh bersama-sama. Ya disini juga ada sih teraweh, tapi kan suasananya beda," tuturnya.

FB IMG 1557786274242Tasya dan ibunda 

Lebih lanjut gadis yang sekarang bekerja di KBRI Mexico City ini mengungkapkan salah satu yang menjadi kendala dalam menjalani ibadah puasa di Meksiko adalah perbedaan waktu berpuasa yang lebih panjang dari Indonesia.

"Kalau di Indonesia kan buka puasanya sekitar jam 6 sore, kalau di sini lebih panjang 2 jam, jam 8 malaman baru Maghrib," jelasnya.

Karena itulah dalam menjalani ibadah puasa untuk pertamakalinya di Meksiko, Tasya melakukan berbagai macam persiapan, antara lain persiapan fisik, hati dan mental.

"Berhubung baru pertama kali puasa di luar Indonesia, jadi harus deal dengan cuaca yang beda, waktu puasa yang lebih panjang dan interaksi dengan masyarakat yang mayoritas bukan muslim," lanjutnya.

Meskipun harus menjalani Bulan Ramadhan di negeri orang namun Tasya tetap merasa beruntung, pasalnya sang ibunda tercinta turut menemaninya berpuasa di negeri sombrero.

Karena itulah Tasya pun selalu berusaha menyempatkan diri untuk sahur dan berbuka puasa bersama ibunda tercinta selama Bulan Ramadhan.

"Kalau puasa gini emang lebih enak sama keluarga. Kalau sahur sih pasti akan selalu di rumah dengan ibu. Tapi kalau berbuka mungkin sekali-kali akan berbuka di luar sama teman," ujar Tasya.

Comments powered by CComment