Harry Fear 5

Harry Fear terkenal karena liputan streaming video langsung yang unik mengenai konflik Gaza - Israel pada tahun 2012 di saluran berita RT (sebelumnya Russia Today) yang mempelopori penggunaan streaming video di saat perang.

Harry meliput beberapa insiden teroris Prancis baru-baru ini; penutupan bersejarah kamp Calais ‘Jungle’; kekerasan anti-migran dan kebangkitan sayap kanan di Eropa; Krisis Utang Yunani; dan tindakan keras Turki yang sedang berlangsung. Harry juga seorang pembicara publik yang tajam dan telah berbicara di depan audiens di lima benua.

Dia telah menyampaikan gagasannya di tiga forum TEDx Talks (Challenging Realities, the Mainstream Media and You; The Globalised Heart; and Passionate, Political, Personal Development).

Harry Fear adalah seorang jurnalis yang bersemangat dan mahir di belakang kamera. Dia membuat film dokumenter "A Matter of Hope" yang bercerita tentang HIV / AIDS di Afrika Selatan (2010), "Gaza Still Alive" (2019) dan saat ini sedang mengerjakan 'film dokumenter mini' untuk sebuah LSM pendidikan pemula yang bernama Africa Innovate di Malawi.

Berhubungan dengan Harry lebih mudah dari yang dibayangkan. Dia adalah teman baik yang rendah hati dan sangat menyenangkan. Kami berbicara tentang banyak masalah dan saya telah memutuskan untuk membagikan percakapan kami yang menyenangkan di sini.

Harry Fear 1

Assalamu'alaikum Wr.Wb. Bisakah Anda memperkenalkan tentang diri Anda?

Wa alaikum salam! Saya seorang jurnalis dan pembuat film Inggris berusia 30 tahun, yang terkenal karena liputan saya tentang Palestina di masa perang dan laporan politik dan sosial saya dari Inggris.

Saya cukup beruntung telah melakukan perjalanan ke banyak negara dan memiliki hak istimewa untuk menyaksikan dan melaporkan semua peristiwa luar biasa dan bersejarah seperti dua perang antara Israel dan Gaza, dan (yang disebut) krisis pengungsi Eropa, setelah serangan teroris dan berbagai kisah sosial ekonomi dan politik.

Harry Fear 2

Film dokumenter Anda tentang Palestina, beberapa tahun yang lalu, sangat viral, dan dunia bisa melihat apa yang terjadi di Gaza, Palestina. Apa yang memotivasi Anda untuk membuat film tentang Palestina? Dan bagaimana Anda mendapat kesempatan untuk meliput berita tentang Palestina?

Adalah suatu berkah bahwa pekerjaan yang saya lakukan pada waktu itu untuk meningkatkan kesadaran tentang kengerian perang di Gaza dilihat oleh begitu banyak orang. Saya sangat bersyukur bisa memiliki efek positif dengan mengungkap kebenaran yang tidak dapat diterima yang seringkali ditekan.

Saya mengunjungi Palestina untuk pertama kalinya sebagai jurnalis warga yang menjadi saksi mata saat berusia 22 tahun. Dengan bantuan teman-teman Palestina dan keramahtamahan warga lokal, saya menggunakan keterampilan mengembangkan diri di media untuk melaporkan apa yang terjadi.

Peluang itu terbuka bagi siapa saja, karena perbatasan antara Mesir dan Gaza, khususnya, sebagian besar dibuka kembali pada tahun 2012, ketika Morsi dari Mesir berkuasa.

Harry Fear 3

Apakah dokumentasi tentang Palestina ini mendorong Anda untuk masuk Islam?

Keyakinan Palestina dalam kehidupan (ketabahan [AR: "sumud"]) dan ketangguhan psikospiritual mereka pasti memberikan inspirasi bagi saya tentang Islam. Namun saya lebih tersentuh oleh pengalaman di Inggris yang membuat saya akhirnya menemukan Islam.

Namun memang, dari konteks politik saya menemukan Islam akibat Islamofobia yang merajalela di Inggris dan vektor serangan politik yang sangat nyata dengan pandangan mereka tentang Islam dan muslim.

Harry Fear 4

Saya mengikuti media sosial Anda dan melihat postingan Anda. Apakah postingan Anda di media sosial sama dengan kehidupan sehari-hari Anda? Apakah ada kesulitan yang Anda hadapi untuk belajar tentang Islam? Bagaimana Anda menanganinya?

Baiklah, mari kita angkat bendera merah. Media sosial tidak menunjukkan kesalehan atau kesetiaan pada siapa pun. Meskipun demikian, saya mengakui bahwa saya suka menggunakan Instagram sebagai tempat di mana saya dapat sepenuhnya mengekspresikan secara spiritual dan religius. Saya menyimpannya untuk Instagram dan memiliki audiens yang sangat berbeda di sana dengan platform media sosial lainnya.

Menjadi konsisten (yaitu menghindari kemunafikan) adalah sesuatu yang kita semua perjuangkan dan saya tidak akan berpura-pura tidak menghadapinya juga.

Sedangkan masalah yang saya hadapi saat belajar tentang Islam, banyak, bahkan terlalu banyak untuk masuk ke sini. Tetapi di atas itu semua, Islam itu tidak berbentuk dan berbeda makna untuk orang yang berbeda. Seperti shalat 5 kali sehari lebih statis dan tidak kontroversial, namun hal lainnya cukup beragam dan bahkan kontroversial.

Menemukan sendiri Islam yang otentik dan terintegrasi cukup sulit jika seseorang ingin menjadi otentik dan tidak mengadopsi sub-budaya atau sub-ideologi Islam tertentu. Saya dapat mengatakan bahwa saya perlu bertahun-tahun untuk menemukan dan menyadari akan seperti apa 'Islam saya'.

Adapun cara saya mengelola jaringan sosial dan keyakinan saya: hal utama yang saya lakukan adalah mencoba untuk tidak memposting foto-foto diri saya, karena saya telah melihat bahwa kesederhanaan sangat penting dan kerusakan spiritual, sosial dan psikologis yang dihasilkan dari ekses dari Ego dan kesombongan dalam jejaring sosial sangat besar dan bersifat seperti kanker. Karena itu, saya lebih suka untuk mempublish foto saya seminimal mungkin.

 

Menjadi seorang jurnalis dan pembuat film telah membuat Anda berkeliling dunia dan memfilmkan banyak hal. Berapa banyak negara yang telah Anda kunjungi? Apa negara favorit Anda dan mengapa? Apakah Anda ingin kembali ke negara tersebut?

Selama dekade terakhir bekerja di media, saya cukup beruntung telah melakukan banyak perjalanan. Saya baru saja mengunjungi Malawi untuk pertama kalinya. Saya telah mengunjungi sekitar 33 negara.

Negara favorit saya adalah Mesir. Saya menemukan orang-orang yang paling hangat, ramah, jujur dan rendah hati. Itulah sifat-sifat yang saya temukan dalam hidup yang menegaskan perasaan dan konveksi. Saya juga mendapati Kanada sangat positif. Demikian juga dengan Swedia. Makanan Malaysia adalah yang terbaik di dunia untuk rasa. Saya akan senang mengunjungi Tunisia dan Lebanon pada perjalanan berikutnya.

Selama dua tahun terakhir, saya telah mengimbangi semua penerbangan saya dengan karbon, yang merupakan tugas (dan hak istimewa) yang sangat saya rasakan.

Harry Fear 6

Sekarang sulit mempercayai media. Sering kali wartawan menulis berita tidak berdasarkan fakta atau bahkan membingkai dengan tujuan tertentu. Apa pendapat Anda mengenai tersebut?

Yeah, berita seharusnya berdasarkan pada fakta. Jika didasarkan pada kepalsuan atau fakta yang terdistorsi, itu yang kemudian disebut 'berita palsu'. Namun, hari ini ada banyak pendapat, potongan pendapat dan analisis, yang harus ditandai sebagai opini (bukan sebagai berita), sesuai dengan praktiknya.

Namun, pada kenyataannya, memang benar bahwa politisi semakin ditantang oleh kebohongan dan distorsi yang mereka sajikan, yang telah menyebabkan penurunan jurnalisme dan melemahnya kepercayaan warga terhadap media mereka.

Pembingkaian adalah segalanya. Sebenarnya pembingkaian adalah bagaimana pilar sebuah cerita dibentuk, yang menginformasikan (tanpa maksud kata-kata) fakta-fakta apa yang dipilih dan apa 'moral dari cerita' yang diberikan. Tetapi penting untuk menjelaskan bahwa agenda juga itu penting. Agenda adalah kekuatan nyata yang sering tidak kita pikirkan.

Atasan jurnalis seperti editor media dan pers, merekalah yang menentukan negara yang mana, kebijakan apa atau orang dan cerita yang mana yang akan diangkat. Jika Anda dapat mengecualikan cerita tertentu dari visi orang, cara Anda membingkai cerita menjadi sangat kuat.

Belakangan ini, cerita sering dipilih, dibingkai dan diproduksi di sekitar niat dari apa yang "normatif" (yaitu, konvensional), "layak secara komersial" (yaitu, mampu menarik perhatian masyarakat ), "secara profesional" (yaitu, berdasarkan kebijaksanaan perusahaan konvensional).

Kutipan utama yang terlintas di pikiran: "Anda tidak bisa netral dengan kereta yang sedang bergerak." Media normatif, viable, dan profesional adalah konservatif kecil dari struktur dan prasangka kekuasaan tertentu. Ini menjelaskan mengapa liputan media membentuk persepsi kita tentang peristiwa, serta kemampuan kita untuk menemukan kembali sebuah fakta.

Saya merekomendasikan sebuah buku yang bagus: “How to Re-imagine the World: A Pocket Guide for Practical Visionaries” (Bagaimana menata ulang dunia: panduan saku untuk visioner praktis"). Yang dibutuhkan adalah media alternatif berkelanjutan (dibiayai oleh publik) yang menunjukkan (dan secara tidak langsung mengendalikan) media perusahaan dan liputan mereka yang benar-benar gila.

Harry Fear 7

Saya melihat film dokumenter terbaru Anda “Gaza Still Alive/ Gaza Masih Hidup" yang menurut saya, sangat inspiratif. Apa yang ingin Anda katakan melalui dokumenter ini?

‘Gaza: Still Alive’ adalah proyek impian yang penggarapannya membutuhkan waktu lebih dari setahun dari mulai konsep hingga perealisasiannya. Ini adalah puncak dari laporan perang dan keamanan saya di Gaza dan mengikuti dinamika geopolitik dari konflik Israel-Palestina.

Ini mengungkap bekas luka di bawah tanah Israel-Palestina yang kerap diabaikan oleh ketidakadilan antara Israel dan Palestina atas warga sipil Palestina; warga sipil yang sering dengan sengaja tidak dimanusiawikan oleh media korporat utama.

Film ini berusaha memanusiakan secara sensitif dan menyadarkan penonton ke Palestina dengan penderitaan psikologis yang tak terlihat sebagai akibat dari penindasan rezim Israel berturut-turut.

Saya memilih sudut kesehatan mental karena berbagai alasan, termasuk karena kurang dilaporkan dan karena memfasilitasi pemirsa yang lebih empatik ketika audiens diminta untuk membayangkan lanskap kesehatan mental dari karakter yang diwawancarai.

Orang-orang Palestina hampir secara unik dianiaya oleh kekuatan-kekuatan besar dunia. Bekas luka itu entah bagaimana tak terbayangkan dan tak tertahankan; namun dalam film itu, orang-orang Palestina mengajarkan kita ketahanan dan kekuatan dalam menghadapi kejahatan.

Tetapi lebih jauh, film ini juga mengeksplorasi biaya kesehatan fisik dan mental dari kemampuan manusia super ini untuk bertahan hidup dalam menghadapi semua upaya untuk menghancurkan mereka.

 

Harry Fear 8

Apakah Anda punya rencana untuk membuat film dokumenter yang serupa? Mungkin tentang anak-anak dari korban perang di Yaman, Suriah atau Rohingya?

Percayalah, membuat satu film mendalam tentang trauma perang yang sangat cukup untuk diteliti dan disutradarai, itu bukan hal yang menyenangkan. Banyak dinamika dan analisis yang sayangnya dapat ditransfer diantara zona konflik.

Harry Fear 9

Tekad Anda sangat kuat untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan dalam karya-karya dokumenter dan postingan media sosial. Apa yang membuat Anda mengambil posisi untuk terus berjuang demi kebenaran?

Saya kira saya hanya orang yang sangat pemarah. Hanya bercanda. Tapi itu pertanyaan yang sulit dijawab. Saya kira saya hanya tertarik untuk berbicara dan mengungkap apa yang menurut saya penting untuk diungkapkan seperti laron ke nyala api. Saya tidak merasa unik dalam hal ini. Saya pikir itu sebagian didorong oleh kepribadian dan tipe karakter saya dan pengalaman hidup.

 

Harry Fear 10

Apakah Anda punya rencana untuk pergi ke Indonesia suatu hari nanti?

Saya belum punya rencana untuk pergi ke Indonesia. Saya diundang untuk berbicara di Indonesia pada 2012/13 setelah perang 7 hari pada November 2012, tetapi karena pertimbangan politik lokal pada waktu itu, kunjungan ke Indonesia pun terpaksa dilewatkan karena rumitnya masalah imigrasi.

Harry Fear 11

Terakhir tapi tidak kalah pentingnya, apa kutipan favorit Anda yang dapat menginspirasi pembaca kami?

Menyinggung komentar saya sebelumnya tentang ego, kerendahan hati dan pengembangan diri. Saya suka baris puisi ini yang diterjemahkan dari penyair Abyd, yang menurut teologi Islam dikutip dari Nabi kita Muhammad SAW (ﷺ): "Segala sesuatu selain Allah adalah kesombongan."

 

Terima kasih banyak, Harry! Wassalam.

 

 

All pictures are taken from Harry Fear’s Instagram and Facebook @harryfear
source: www.harryfear.co.uk
source: http://seribulangkah.com/harry-fear-the-british-journalist-who-will-inspire-you

Comments powered by CComment