FB IMG 1556733864039

Shinta Utami adalah sosok perempuan tangguh yang melakukan perjalanan dari Jogjakarta menuju Jakarta pada tahun 2017 lalu dengan menggunakan sebuah kursi roda yang telah dimodifikasi.

Tujuan perjalanan ini untuk meningkatkan kesadaran tentang penyandang disabilitas dan aksesibilitas sekaligus juga untuk menggalang dana untuk perjalanan Shinta Utami ke Asia. Berikut kisah perjalanannya.

Floritura

Saya mulai menggunakan kursi roda pada tahun 2016. Rasanya seperti mimpi terburukku yang menjadi kenyataan, karena ketakutan terbesarku adalah tidak bisa berjalan lagi dan berakhir di kursi roda seumur hidup. Namun bagaimana pun saya harus menggunakan kursi roda agar kondisi saya tidak bertambah buruk.

Saya mulai mencari tahu di Google mengenai kursi roda dan bagaimana caranya agar tetap aktif saat menggunakannya. Karena saya yakin ini bukanlah akhir dari dunia meski saya harus menggunakan kursi roda.

Sebenarnya saya masih bisa sedikit berjalan, tetapi pergelangan kaki kiri saya bengkak dan terasa sangat sakit. Saya memiliki tiga ligamen yang sobek di pergelangan kaki kiri. Dokter menyarankan untuk dioperasi, namun dia tidak yakin apakah dengan operasi akan menyembuhkan atau malah menambah masalah pada kaki saya. Saya pun tidak ingin mengambil risiko dan memilih memakai kursi roda.

 
20190501 151943
Shinta Utami

Saya tidak tahu apa-apa tentang kursi roda, jadi saya mulai bertanya-tanya untuk mencari informasi mengenai kursi roda. Sebagian besar para pengguna kursi roda yang saya tanya ternyata juga tidak mengetahui apa pun tentang kursi.

Saya juga menemukan fakta bahwa banyak orang yang masih bisa berjalan sedikit, seperti saya, namun setelah menggunakan kursi roda justru jadi tidak bisa berjalan sama sekali karena otot mereka menjadi semakin lemah sampai akhirnya kehilangan kemampuan untuk berjalan.

Selain itu saya juga menemukan kenyataan kalau sebagian besar para penyandang cacat di Indonesia tidak aktif dan hanya tinggal di rumah. Hal ini sungguh sangat menyedihkan.

Setelah saya mulai menggunakan kursi roda, masalah terbesar yang saya temukan adalah banyak tempat yang tidak dapat diakses dengan kursi roda.

Sebagian besar trotoar dan bangunan di Indonesia tidak dilengkapi dengan fasilitas untuk para pengguna kursi roda. Tidak heran kebanyakan para difabel hanya bisa tinggal di rumah.

Saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan tetap aktif meskipun menggunakan kursi roda. Jadi saya pun punya ide gila untuk mengayuh kursi roda dari Yogyakarta ke Jakarta.

Pertama kali saya keluar dengan ide ini, banyak orang di sekitar saya yang berpikir kalau ide saya ini sungguh gila. Mereka menyarankan agar saya melupakannya karena akan sangat berbahaya dan tidak masuk diakal.

19 05 01 14 59 37 535 DecoShinta Utami

Saat melakukan perjalanan ke Aceh dengan sepeda motor beberapa waktu lalu, saya sempat mendengar mengenai seorang pria yang mengayuh becak dari Aceh ke Jakarta. Namanya adalah Scott Thompson. Maka saya pun mencari informasi mengenai dia.

Ternyata selain mengayuh becak dari Aceh ke Jakarta, dia juga telah melakukan hal-hal yang sangat luar biasa lainnya seperti berlari melintasi Gurun Sahara, juga berlari dari Bali ke Jakarta untuk sebuah badan amal.

Saya selalu ingin menghubungkan perjalanan saya dengan badan amal, tetapi saya tidak tahu caranya. Jadi saya pun menghubunginya karena dia telah berpengalaman mengenai hal tersebut. Yang mengejutkan saya, dia membalas pesan saya dengan cepat. Saya tidak berharap dia akan menjawab saya begitu cepat karena saya tahu dia orang yang sangat sibuk dan cukup terkenal.

Kami pun kemudian bertemu. Saya lalu mengungkapkan ide saya. Diluardugaan dia sangat setuju dan menjadi satu-satunya orang yang mendukung saya pada saat itu. Dia kemudian menjadi mentor dan mendukung saya secara mental melalui proses dan membantu membiayai perjalanan. Wisma Cheshire, rumah bagi para penyandang cacat, juga turut mendukung saya dalam perjalanan ini.

Saya pun berlatih setiap hari dengan menggunakan kursi roda biasa, demi merealisasikan rencana saya melakukan perjalanan dengan kursi roda sejauh 530 KM. Sayangnya kursi roda saya tidak cocok untuk perjalanam ini, maka saya pun mencari jenis kursi roda yang lain.

Dengan bantuan teman-teman dari komunitas sepeda Bike Pe'a di Jakarta, mereka memodifikasi kursi roda hingga sesuai dengan kebutuhan saya.

Perjalanan ini adalah sebuah kampanye dan juga semacam protes kepada pemerintah. Saya ingin meningkatkan kesadaran tentang disabilitas dan aksesibilitas.

 19 05 01 18 30 15 708 DecoBersama pemerintah setempat di balai kota Yogyakarta

Perjalanan saya mulai dari balai kota Yogyakarta. Namun baru saja berjalan sekitar 5 km, rantai kursi roda putus. Jadi pada hari pertama, saya hanya menempuh perjalanan sejauh 23 km, kurang dari target saya 30 km sehari.

Pada keesokan paginya saya mendapati roda depan terus bergesekan dengan garpu, karena itulah kursi rodanya terasa sangat berat saat dikayuh. Saya tidur di pom bensin dan menemukan keesokan paginya roda tip saya hilang.

Saya tidak mengalami masalah teknis setelah itu, kecuali ketika jari-jari roda saya patah dua kali di jalan, dan karena mekanisme kursi roda yang lucu dan roda freewheel dilas, jadi setiap kali saya mengubah jari-jari yang saya butuhkan untuk menggiling roda freewheel.

Sebagian besar para mekanik hanya memotong freewheel saya dan menggantinya dengan yang baru. Tetapi mereka juga tidak menyadari bahwa dibutuhkan kehati-hatian saat melakukan pengelasan karena panas yang ditimbulkan akan mencairkan pegas di dalam freewheel.

 Shinta Utami Wheelchair ProblemMenunggu roda diperbaiki

Tiga hari pertama di jalan hanya ada saya bersama kursi roda. Saya merasa sangat takut karena di sana tidak terdapat trotoar sehingga saya harus mengayuh kursi roda di jalanan bersama dengan mobil, sepeda, truk dan bus yang terlihat seakan-akan hendak membunuh saya!

Lucunya, saya sangat menikmati mengayuh kursi roda sambil mengobrol dengan semua orang yang terkesan dengan perjalanan saya atau dengan orang-orang yang saya lewati sepanjang jalan.

Saya mendorong kursi roda saya perlahan jadi saya punya cukup waktu untuk mengobrol dengan semua orang. Banyak yang meminta berfoto dengan saya, jadi saya harus berhenti untuk foto setiap 5 menit, tapi itu menyenangkan.

Saya juga harus sering berhenti karena begitu banyak orang yang ingin menyumbang makanan dan minuman. Namun saya terpaksa menolaknya sebagian. Bukan karena saya tidak suka, tapi karena saya tidak mampu membawa makanan dan minuman sebanyak itu dengan kursi roda.

19 05 01 13 41 26 736 DecoBertemu banyak orang dan sejumlah komunitas

Pada hari keempat beberapa komunitas menemukan saya di jalan dan memperkenalkan saya dengan komunitas mereka. Tanpa saya sadari rupanya mereka memberitahukan perjalanan saya kepada komunitas lain di sepanjang rute yang saya lalui.

Saya pun kehilangan kebebasan. Saya terus menjelaskan kepada orang-orang bahwa perjalanan ini adalah mengenai kemandirian dan melawan keterbatasan. Namun beberapa dari mereka tidak mengerti dan terus memperlakukan saya seolah-olah saya adalah objek amal.

Mereka menjagaku di mana-mana. Mereka terus mengikuti saya bahkan ketika saya meminta mereka berkali-kali untuk tidak melakukannya. Saya kesal karena ketika mereka mengikuti saya, mereka menyebabkan kemacetan lalu lintas.

Mereka juga ingin membantu mendorong kursi roda saya ke setiap bukit, bahkan ke bukit yang terkecil pun. Saya benar-benar menghargai bantuan yang saya dapatkan, tetapi hal semacam ini membuat perjalanan saya kehilangan maknanya.

Shinta Utami Sleep In The StreetTidur dimana saja

Banyak hal yang terjadi pada perjalanan saya membuat saya sadar bahwa di Indonesia orang masih berpikir bahwa orang cacat adalah orang sakit yang selalu membutuhkan bantuan dan tidak bisa mandiri.

Banyak sekali orang bertanya kepada saya mengapa tidak ada yang membantu saya mendorong kursi roda atau mengapa saya pergi sendirian. Orang Indonesia sangat murah hati dan baik hati tetapi ini juga bisa menjadi masalah bagi orang cacat karena membuat kami menjadi manja.

Di tempat umum atau di gedung pemerintah akses bagi mereka yang cacat sebagian besar tidak tersedia. Ketika saya menanyakannya, mereka menjawab kalau mereka akan selalu siap membantu kaum disabilitas. Kemudian saya bertanya lagi: "Bagaimana kalau saat itu Anda tidak ada di tempat? Siapa yang akan membantu?"

Sebagian besar orang berpikir bahwa akan selalu ada seseorang yang mau membantu, karenanya mereka merasa tidak perlu membangun akses yang tepat untuk para penyandang cacat. Dan karena pola pikir ini justru membuat para penyandang cacat tidak bisa mandiri.

Saya mencoba untuk memberikan edukasi mengenai disabilitas dan aksesibilitas dimana pun berada. Karena kebanyakan orang masih belum mengerti dan berpikir bahwa kaum difabel adalah orang sakit. Orang-orang masih belum melihat defabel sebagai perbedaan.

Setelah beberapa hari saya menjadi lebih baik dalam menggunakan kursi roda pada petualangan saya. Saya berhasil menempuh perjalanan sekitar 50 km sehari. Rekor tertinggi saya adalah 64 km sehari.

Rencananya saya akan menyelesaikan perjalanan sepanjang 530 km dalam 20 hari. Namun ternyata saya mampu menyelesaikannya dalam 15 hari (total 18 hari - 15 di jalan dengan istirahat 3 hari dan memperbaiki kursi roda saya).

Sepanjang jalan saya berhenti di kantor pemerintah seperti kantor walikota, kantor polisi atau gedung pemerintah lainnya untuk menjelaskan lebih lanjut tentang disabilitas dan aksesibilitas.

FB IMG 1556768429183
Bersama penyandang disabilitas lainnya

Saya juga berhenti di pusat-pusat penyandang cacat dan bertemu begitu banyak penyandang cacat untuk berdiskusi mengenai masalah yang kami hadapi dalam kehidupan sehari-hari, terutama tentang aksesibilitas.

Sepanjang jalan banyak orang berpikir kalau saya akan bertemu dengan presiden. Alangkah baiknya jika saya bisa bertemu dengan Presiden dan berdiskusi tentang aksesibilitas bagi penyandang cacat. Tetapi sayangnya saya tidak mendapatkan kesempatan tersebut. Namun saya justru bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ahok.

Shinta Utami With Mr AhokBersama mantan Gubernur DKI Jakarta, Ahok

Kami tidak mendapat kesempatan untuk berbicara karena pada saat itu ada banyak orang di sana sedang menunggu untuk melihatnya juga.

Perjalanan dengan kursi roda ini adalah perjalanan dengan kursi roda pertama saya, tetapi saya cukup yakin itu tidak akan menjadi yang terakhir.

Saya benar-benar ingin melakukannya lagi untuk mengedukasi orang dan meningkatkan kesadaran mengenai disabilitas.

 

Shinta Utami, a solo traveller with wheelchair:
www.limitedwithoutlimits.com

 

Comments powered by CComment