Laki Laki Suku Baduy

Bagi orang yang belum pernah berkunjung ke Baduy seringkali berpikir bahwa Baduy itu menakutkan, sulit dijangkau karena berada di lokasi yang antah berantah. Padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Baduy/Badui merupakan kelompok etnis masyarakat adat suku Banten di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 26.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang mengisolasi diri dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk didokumentasikan, khususnya penduduk wilayah Baduy Dalam (https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes).

Kampung Gajeboh BaduyKampung Baduy Luar

Suku Baduy dibagi menjadi dua sub-kelompok, yaitu Baduy Dalam, dan Baduy Luar. Orang asing tidak diizinkan untuk bertemu orang Baduy Dalam, sementara Baduy Luar sudah melakukan beberapa kontak terbatas dengan dunia luar.

Jarak Baduy dalam dari Baduy luar sekitar 10 km berjalan kaki. Adat istiadat di Baduy dalam jauh lebih ketat dibandingkan dengan Baduy luar. Misalnya di Baduy dalam melarang penggunaan sabun saat mandi di sungai. Sementara di Baduy luar masih tersedia bilik-bilik pancuran untuk mandi.

Rumah 2BSuku 2BBaduyRumah orang Baduy luar

Sebelum ada KRL, memang agak menyebalkan naik kereta dari Jakarta ke Rangkasbitung dengan kondisi kereta yang buruk. Tapi setelah ada KRL, perjalanan menuju lokasi kampung Baduy menjadi lebih mudah untuk diakses.

Kita hanya perlu naik KRL dari Stasiun Tanah Abang ke Rangkasbitung dengan biaya Rp.13.000 selama 2 jam perjalanan, lalu disambung dengan mobil ELF ke Ciboleger dengan biaya Rp.25.000 selama 2 jam perjalanan. Dari Ciboleger kita harus berjalan kaki menembus hutan sekitar 1 jam lamanya dengan jarak tempuh sekitar 2 kilometer sebelum akhirnya sampai di perkampungan Baduy.

Jalan Menembus Suku BaduyJalan menuju kampung Baduy luar

 Dari ketiga kali kunjungan saya, Baduy luar mengalami banyak perubahan mulai dari jalanan yang semula tanah menjadi batu-batu berundak sehingga memudahkan para pejalan, rumah-rumah yang semakin rapih serta manusia-manusianya yang menjadi lebih terbuka.

Tetapi Baduy tetap sama di mata saya. Tempat ini bukan tempat wisata buat saya, tetapi tempat untuk mencerahkan pikiran dan menata ulang sudut pandang.

Sebagai orang yang tinggal di Jakarta, saya tidak perlu kecentilan mencari sensasi dengan terkaget-kaget tidur di balai-balai, mandi di pancuran terbuka, makan dengan ikan asin atau bergelap-gelap tanpa listrik.

Saya lebih suka memasuki alam pikiran warga Baduy yang sederhana, apa adanya dan damai. Bahkan saya mengagumi cara mereka bertemu di jalanan, berhenti sejenak, saling menyapa hangat seperti semut-semut yang bertemu saudaranya.

Karena itu semua, saya lebih suka ke Baduy sendirian bukan bersama rombongan sehingga saya bisa maksimal hidup di tengah-tengah mereka meskipun hanya beberapa hari.

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di perkampungan ini. Diantaranya pergi ke sungai, menyusuri beberapa perkampungan yang sudah terhubung dengan jembatan bambu dan jalanan batu berundak sehingga sangat mudah untuk menjelajah sendiri sekalipun, ikut tuan rumah pergi ke ladang, bersama para wanita belajar menenun, atau berkunjung ke Baduy dalam.

Anak Anak Suku Baduy Yang CantikAnak-anak Baduy yang cantik

 Saya mencintai Baduy sejak pertama saya datang berkunjung. Malam-malam gelap di bawah cahaya bulan dan bintang, udara dingin yang membuat tubuh menggigil, suara anjing yang menggonggong di tengah hutan, laki-laki yang bersenandung lagu Sunda sambil berjalan dalam gelap, suara langkah kaki bersahutan dalam hening malam, serta tawa lirih para gadis yang duduk di emper rumah sembari menunggu kantuk datang.

Saya sering berharap malam tidak cepat berlalu saat menginap di Baduy, karena malam-malam di perkampungan ini sangat indah. Membuat otak saya terbuka, membersihkan sampah yang selama ini terkeliaran tanpa manfaat di kepala saya dan menghadirkan energi-energi positip baru.

Selama perkampungan Baduy ini masih ada, saya akan terus kembali (Tary).

 

Tary Lestari, Author, Scriptwriter & Blogger:
www.seribulangkah.com

Comments powered by CComment